![]() |
| perumpamaan tentang penabur di Alkitab |
Perumpamaan tentang Penabur adalah satu dari sejumlah kecil pengajaran yang ditulis dalam 3 kitab Injil (Matius, Markus dan Lukas). Bahkan termasuk perumpamaan yang dijelaskan artinya oleh Yesus sendiri kepada murid-muridNya. Berarti ini sesuatu yang penting yang harus dipahami oleh kita.
Benih yang ditaburkan adalah “firman tentang Kerajaan” (Matius13:19), “firman” (Markus 4:14), atau “firman Allah” (Lukas 8:11)—ajaran-ajaran Guru dan para hamba-Nya.
Kadang kalau kita menabur benih sayuran di tanah, tidak semua benih yang kita tabur itu bertunas, ada aja sebagian yang tidak bertunas. Firman Allah adalah jenis benih yang tidak dapat mati dan tidak dapat rusak (1 Petrus 1:23). Dan Tuhan berkata bahwa Firman itu tidak akan kembali kepadaKu dengan sia-sia, tapi akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya (Yesaya 55:11).
Jadi benih ini harusnya pasti bertunas, bertumbuh sampai menghasilkan buah. Seandainya kita belum melihat sedikitpun tunas dari Firman Tuhan yang kita dengar apalagi sampai melihat buah dalam hidup kita berarti yang bermasalah bukan benihnya tapi tanahnya.
Benih pun ada berbagai jenis, ada yang kualitas unggul dan kurang unggul. Misalnya kita ingin panen pepaya california kualitas unggul ya kita harus menabur benih pepaya california kualitas unggul, bukan sembarang benih pepaya california. Benih Firman Tuhan adalah jenis benih kualitas unggul, haleluya, puji Tuhan, kita bisa menikmati hidup Kerajaan Allah yang unggul.
TANAH
Empat jenis tanah di mana benih itu jatuh mewakili cara orang menerima dan mengikuti Firman, simbol dari hati kita dan menggambarkan respon kita terhadap Firman Tuhan. Kondisi hati kita bisa berubah makanya Firman Tuhan mengingatkan kita untuk menjaga hati dengan segala kewaspadaan,
jagalah hatimu baik-baik, sebab hatimu menentukan jalan hidupmu (Amsal 4:23 BIMK)
di atas segala-galanya, hati-hatilah terhadap yang kaupikirkan karena pikiranmu mengendalikan hidupmu (Amsal 4:23 VMD)
menjaga hati adalah tugas kita, bukan tugas Tuhan, karena ketika bertobat, kita sudah diberikan hati yang baru oleh Tuhan
